Sabtu, 06 Oktober 2012

undefined
undefined

Bel istirahat yang dinanti pun berbunyi, guru biologi mulai membereskan buku dan meninggalkan kelas. Seperti biasa, Silla bersama sahabatnya, Clarissa pergi ke kantin untuk membeli makanan. ‘Ca, kantin yuk, laper nih’, ajak Silla pada sahabatnya itu.
‘Tunggu bentar la, aku masih beresin buku’ sahut Caca. Mereka berdua pun pergi ke kantin.
Hari ini, semua terlihat aneh bagi Caca. Semua teman sekelas Caca bertingkah aneh, seolah-olah ada yang disembunyikan dari Caca. Silla pun ikut-ikutan bertingkah aneh.
‘La, kok aku ngerasa ada yang aneh ya hari ini’ tanya Caca pada Silla.
‘Aneh gimana ca? perasaanmu aja kali tu’ jawab Silla.
Caca semakin bingung dengan teman-temannya, termasuk sahabatnya itu. Dia merasa ada sesuatu yang sedang direncanakan teman-temannya, tapi tak ada saorang pun yang memberitahunya. Kebingungan dan penasaran menghantui perasaannya, ‘Apa mungkin ini semua ada hubungannya dengan Bobby? Ah ga mungkin, memangnya apa yang direncanakannya sampai teman-teman bersikap aneh padaku.’ batin caca.
Dia mulai risih dengan semuanya, Caca pun memutuskan untuk menghampiri Tisya. Tisya adalah sahabat Caca sejak kecil. Mereka berdua sudah seperti saudara, ditambah lagi orang tua mereka sudah bersahabat sejak lama. ‘Aku ke bawah dulu ya La, mau nyamperin si Tisya’ tanpa panjang lebar, Caca meninggalkan Silla dan berjalan menuruni tangga menuju kelas Tisya.
Dari arah bawah datang seorang cowok yang terlihat sedang buru-buru dan tidak sengaja menabrak Caca.
‘Bruuukkk!!’
‘Hati-hati dong Bob kalo jalan, jangan pake lari gitu’ marah Caca yang kesakitan ditabrak Bobby.
‘So-so-sori Ca, aku ga sengaja nabrak kamu. Aku lagi buru-buru soalnya, sori ya!’ Bobby pun meminta maaf dan buru-buru pergi meninggalkan Caca.
‘Ih, dasar tu anak. Uda nabrak, skarang ninggalin gitu aja’ keluh Caca. Caca yang masih ngomel-ngomel dalam hatinya, tiba-tiba mendengar suara cewek yang tak asing lagi baginya. Yak! Itu Tisya.
‘Cacaaaaaaaaa......’ sapa Tisya yang langsung memeluk Caca dengan erat.
‘Sya, uda Sya lepas, aku sesak nafas nih kamu peluk kayak gitu’ ucap Caca sambil berusaha melepas pelukan Tisya.
‘Hehehe sori deh, kamu kan tau aku suka meluk kamu’ sahut Tisya.
‘Oke, no problem..  Hmm Sya, I feel something different today’ mulai Caca
‘What’s wrong baby? It’s about Bobby? Or Devon?’ Jawab Tisya yang mulai mengira-ngira apa yang sedang dipikirkan Caca.
‘Bukan, bukan tentang mereka Sya, tentang anak-anak kelasku’ Sangkal Caca.
‘Emang mereka pada kenapa Ca?’.
‘Aku ngerasa mereka aneh daritadi pagi, kayak merencanakan sesuatu tapi setiap aku tanya ke anak-anak pada ga ada yang mau jawab pertanyaanku. Mereka buat aku penasaran’ sahut Caca.
‘Kenapa kamu ga tanya ke Bobby aja? Dia kan terbuka sama kamu, pasti mau ngasi tau deh’ saran Tisya.
‘Uda Sya, aku uda nanya sama dia juga tapi tetep ga dijawab. Dia bilang temen-temen ga ngerencanain apa-apa. Tapi aku agak curiga deh sama Bobby, soalnya hari ini dia beda banget ga kayak biasanya; dan juga, setiap aku ngobrol sama Bobby pasti diledekin sama anak-anak. Tapi aku ga tau ada apa sama dia, apa mungkin ada hubungannya ya sama sikap anak-anak yang berubah hari ini’ jawab Caca yang semakin bingung dengan semuanya.
‘Ca, udalah jangan mikirin itu. Ga bakal ada apa-apa kok. Paling-paling mereka cuma ngerjain kamu aja. It’s gonna be alright Ca…’
‘I hope the same. Uda ah, aku mau ngasi tau kabar gembira nih Sya. Mau tau ga?’ sambung Caca dengan girangnya.
‘Mau dong, kabar apaan nih? Devon ya? haha’ tanya Tisya yang kelihatannya sudah tau apa yang akan diceritakan sahabatnya itu.
‘Kamu tuh paling bisa ya baca pikiranku.’ jawab Caca yang wajahnya mulai memerah saat mulai membicarakan devon.
‘Ya taulah, kita tu uda sahabatan lama banget ca, jadi apa yang ga aku tau dari kamu sih. Sampe yang Devon gak tau pun aku tau. Cieeeee emang kenapa sama Devon nih? Dia ada tanda-tanda buat ngajak kamu balikan yaaaaa?’
‘Iya juga ya, aku baru nyadar kalo uda selama itu kita sahabatan. Eh belum kok, Devon belum ada tanda-tanda buat kesana. Cuma, kita makin deket aja. Nih liat aja sms-sms dia ke aku, melted bacanya sya’ sambung Caca sembari memperlihatkat sms-sms Devon pada Tisya
Tisya yang melihat sms-sms Devon pun ikut merasakan senang. Karena harapan sahabatnya untuk bisa dekat lagi dengan Devon sudah terkabulkan. Devon adalah mantan pacar Clarissa. Mereka sudah putus beberapa bulan yang lalu.  
‘Kelihatannya sebentar lagi bakal ada yang balikan nih, ehem ehem..’ ledek Tisya
‘Belum kok sya, belum tentu juga kita balikan. Siapa tau aja semua sms dia cuma sekedar iseng aja, ya ga?’ Jawab Caca ragu
‘Gak deh Ca, kamu kan tau sendiri sifat Devon kayak gimana. Tapi, kalo nanti kamu sama Devon beneran balikan, gimana sama nasibnya Bobby?
Caca memang dekat dengan Bobby, tapi dia hanya menganggap Bobby sebagai teman sekelasnya saja; dan dia hanya sedikit mengagumi  Bobby. Jika dibandingkan dengan Devon, dia akan lebih memilih Devon ketimbang Bobby. Tetapi, di hati yang paling dalam, Caca menyimpan keraguan terhadap Devon. Dia ragu dan bingung akan kelanjutan hubungannya dengan Devon. Caca takut apabila mereka kembali seperti dulu, Devon akan melakukan kesalahan yang sama. Walaupun dia menyimpan banyak keraguan dalam hatinya, Caca tidak dapat memungkiri kalau sebenarnya dia masih menyimpan perasaan pada devon. Ya, rasa sayang itu masih dan belum hilang sampai sekarang. Seberapa keras Caca mencoba menghapus nama Devon dari otaknya, tetap saja Devon masih berkeliaran di pikirannya. Itulah sebabnya betapa senangnya Caca saat ia dan devon dekat kembali.
‘hmm.. gak tau Sya, aku belum kepikiran sampe sana. Aku butuh saranmu tentang itu, aku takut mengambil keputusan yang salah dan menyesal pada akhirnya’ jawab Caca dengan penuh keraguan.
‘Gini aja deh Ca, pilih salah satu yang membuat kamu lebih nyaman. Entah itu Devon ataupun Bobby. Ikuti aja kata hatimu, pasti kamu bakalan nemuin jawaban dengan sendirinya’
‘Saranmu bener juga ya Sya. Makasi ya, kamu emang sahabat yang paling tau keinginanku apa. You’re my best Tisya..’ Clarissa pun pergi meninggalkan Tisya dan kembali ke kelasnya.
Pelajaran selanjutnya pun berlanjut dan Caca makin merasa asing di kelasnya sendiri karena sikap teman-temannya yang sedikit aneh hari ini. Tidak ada seorang pun yang mengajak Caca untuk sekedar mengobrolkan sesuatu. Caca pun hanya terduduk diam sambil menyimak penjelasan guru sepanjang hari.
Bel pulang sekolah pun berbunyi, Caca menghampiri Tisya ke kelasnya lagi. Hari ini Caca pulang bersama Tisya, karena ayah Caca tidak bisa menjemputnya di sekolah. Namun, di tengah perjalanan menuju tempat parkir, Caca dan Tisya dicegat oleh segerombol orang dan seorang pria di depannya. Caca kaget saat menyadari kalau segerombol orang itu adalah teman-teman sekelasnya, dan seorang cowok yang berdiri di depan mereka ternyata Bobby.
Caca semakin bingung dengan semuanya. ‘Ada apa ini sebenarnya? Kenapa kalian berdiri disana?’ tanya Caca yang kebingungan
Tisya yang berdiri di samping Caca juga merasa bingung. Sampai Bobby mulai berbicara, ‘Tisya, boleh aku ngomong sama Caca?’
‘Boleh, ngomong aja Bob’ Tisya menyingkir dan mempersilahkan Bobby untuk menyampaikan sesuatu pada Caca
‘Hmm.. Clarissa, sebenernya.. hmm..’ ucap Bobby mulai gugup
‘Kenapa Bob? Daritadi hmm terus’ tegas Caca yang semakin bingung
‘Sebenernya aku suka sama kamu Ca’ jawab Bobby dengan tegas
‘Ha? Kamu bohong kan Bob?’ Tanya Caca memperjelas ucapan Bobby
‘Aku serius Ca, aku uda lama suka sama kamu. Tapi aku ga berani ngungkapinnya. Kamu mau jadi pacarku?’ tanya Bobby dengan percaya diri yang sembari mengambil tangan Caca satu persatu dan menggenggamnya
Pertanyaan yang sama sekali tidak terfikirkan oleh Clarissa. Dan sekarang terlontar dari bibir Bobby.
‘Apa aku salah dengar? Barusan Bobby menyatakan perasaannya padaku? Aku sama sekali tidak menduga Bobby akan menanyakan itu! Apa yang harus aku jawab sekarang? Ya Tuhan, aku bingung.. Baru tadi aku bercerita betapa senangnya saat aku bisa dekat lagi dengan Devon, tapi kenapa sekarang aku harus dihadapi oleh pertanyaan yang sama sekali tidak aku inginkan?? Apa aku harus jawab iya? Atau tidak? Aku bingung.. Tisya, aku harus jawab apa sekarang? Kalo aku ikuti kata hatiku pastinya aku akan jawab tidak, karena aku masih memiliki perasaan terhadap Devon. Tapi aku takut Devon kembali seperti dulu lagi. Apa aku harus mengubur dalam-dalam perasaanku terhadap Devon dan memulai hubungan baru dengan Bobby yang mungkin saja lebih baik dari Devon? Apa aku bisa melakukannya? Aku bingung Sya..’ batin Caca yang sejak tadi melamun memikirkan jawaban apa yang haris ia berikan pada Bobby.
Ia melihat Tisya, tetapi Tisya hanya mengisyaratkan untuk menjawab sesuai kata hati Caca. Dan akhirnya..
‘Iya, aku mau Bob..’ jawaban itu terlontar juga dari Caca setelah sekian lama terdiam
‘Ya Tuhan, semoga keputusan yang aku ambil ini benar dan aku tidak menyesalinya..’ gumam Caca dalam hati.
Tak sengaja Caca melihat ke sudut kirinya, dia melihat seseorang yang pastinya tidak asing lagi bagi Caca dan kelihatanya sudah melihat peristiwa itu daritadi. Dan orang tersebut ternyata DEVON!
Devon yang daritadi memperhatikan Caca dari atas motor lalu turun dan melemparkan senyum pada Caca..

Bersambung..
undefined
undefined

Sabtu, 6 Oktober 2012

Ternyata susah ya buat cerpen” atau sejenisnya. Pertama niatan buat cerpen setelah liat blog kakak kelas yang isinya karangannya dia sendiri, isinya bagus kyk penulis novel yang uda professional. Padahal masi anak kuliahan. Tertarik buat kyk gituan, dan gataunya itu tu S.U.S.A.H!
Yang bahasanya bertele-tele lah, yang ga nyambung lah ceritanya. Uda ngulang beberapa kali dan sampe sekarang belum selesai juga. Fighiting!!!~

Senin, 17 September 2012

undefined
undefined


Jika kita berbicara soal dunia kuliner, rasanya memang tidak ada habisnya, apalagi kalau sedang membahas makanan yang lagi ‘ngetrend’ di masyarakat. Saat ini, tentu saja telinga kita tidak asing lagi dengan "Rainbow Cake". Sebutan untuk kue berlapis warna-warni nan cantik ini sedang marak-maraknya dibicarakan. Warnanya yang cantik menyebabkan kue ini digemari oleh berbagai kalangan masyarakat. Dari kalangan anak kecil sampai dewasa pun banyak yang menggemari kue yang sedang ‘booming’ ini.
Akan tetapi, untuk dapat menikmati kue ini harus merogok kocek sedikit dalam lagi, ini karena harga rainbow cake sedikit lebih mahal dibandingkan harga kue lainnya. Harga yang mahal ini disebabkan oleh proses pembuatannya yang cukup memakan waktu karena harus memanggang satu per satu lapisan kue tersebut. Tetapi, hal ini tidak menyulutkan niat masyarakat terutama para remaja untuk memberikan kue ini sebagai hadiah ulang tahun kepada sahabatmya.
Sebenarnya, Rainbow Cake sendiri berasal dari amerika. Kue ini di buat oleh seorang remaja Amerika yang berniat ingin membuat kejutan di hari ulang tahun sahabatnya dengan membuat aneka warna menarik dalam satu kue. Sejak saat itu otomatis trend Rainbow Cake menjadi kesohor.

Diberdayakan oleh Blogger.